Kiprah KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah yang Jadi Pahlawan Nasional

0
3207
Kiprah KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah yang Jadi Pahlawan Nasional
Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Sejumlah ulama Tanah Air menyandang gelar Pahlawan Nasional atas kiprahnya dalam kemerdekaan Indonesia hingga pembaruan dalam sistem pendidikan. Salah satu ulama yang berperan dalam hal itu adalah KH Ahmad Dahlan.

Sosok KH Ahmad Dahlan begitu lekat dengan masyarakat Yogyakarta. Ia lahir dari keluarga muslim di sebuah kampung religius di Yogyakarta yang bernama Kauman. Kampung ini berada tepat di samping Keraton Yogyakarta.

KH Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 dengan nama asli Muhammad Darwis. Ia merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga KH Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kesultanan Ngayogyakarta pada masa itu, sebagaimana dikutip dari Biografi Ulama Nusantara karya Rizem Aizid.

Ibunda KH Ahmad Dahlan yang bernama Siti Aminah juga berasal dari orang terpandang. Ia adalah putri KH Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu Kesultanan Ngayogyakarta. Dari segi nasab, KH Ahmad Dahlan masih keturunan Syekh Maulana Malik Ibrahim, tokoh walisongo yang menyebarkan Islam sekitar abad ke-15.

Sejarah mencatat KH Ahmad Dahlan sebagai tokoh pembaharu dalam pergerakan Islam Indonesia karena ia mengambil peran dalam pendidikan Islam dengan pendekatan yang terbilang modern, sebagaimana dikatakan dalam buku Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah karya Junus Salam.

Kiprah KH Ahmad Dahlan dalam Pendidikan Islam

Semasa hidupnya, KH Ahmad Dahlan banyak menuangkan pemikiran dalam bidang pendidikan Islam. Dalam buku berjudul KH Ahmad Dahlan (1868-1923) terbitan Museum Kebangkitan Nasional dijelaskan, secara garis besar KH Ahmad Dahlan melakukan pembaruan dalam tujuan pendidikan, kurikulum dan metode pengajaran, kelembagaan dan sarana prasarana, dan pendidikan lintas iman.

Bergerak di bidang pendidikan ini menjadi jalan yang KH Ahmad Dahlan pilih untuk melawan Belanda secara halus. Dalam pandangan KH Ahmad Dahlan, apa yang disuguhkan Belanda khususnya dalam bidang pendidikan tidak semuanya buruk. Ia memegang prinsip untuk mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk (al-muhafadzah ala al-qadiim as-shaaih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah).

Pemikiran KH Ahmad Dahlan ini melahirkan sejumlah pembaharuan. Berikut di antaranya.

  1. Pembaruan Tujuan Pendidikan

Pembaruan fundamental yang dilakukan KH Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan adalah tujuan pendidikan sebagai dasar filosofis yang menentukan sistem dan praktik pendidikan. Meski ia tidak menyebutkan tujuan ini secara eksplisit, tetapi pemikirannya yang ia ungkapkan dalam berbagai kesempatan mengandung makna ini.

Bagi KH Ahmad Dahlan, pendidikan bukan sekadar alat untuk mencetak manusia terampil dan menyiapkan masa depan mereka dalam menjalani kehidupan dunia. Jauh dari itu, KH Ahmad Dahlan berpandangan bahwa pendidikan adalah alat dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Dalam hal ini, dimensi pendidikan tak hanya fokus pada duniawi, tetapi juga mencakup ukhrawi.

  1. Pembaruan Kurikulum dan Metode Pengajaran

KH Ahmad juga melakukan pembaruan dalam bidang kurikulum dan metode pengajaran. Ia memasukkan mata pelajaran umum ke dalam pendidikan lembaga pendidikan Islam. Selain mengadopsi dari sistem kurikulum Belanda, sekolah yang diinisiasi oleh KH Ahmad Dahlan mengajarkan nilai-nilai agama.

Metode pengajaran juga berbeda dengan yang ada di pesantren. KH Ahmad Dahlan menggunakan sistem klasikal dengan materi belajar terstruktur sesuai jenjang pendidikan dari masing-masing kelas.

  1. Pembaruan Kelembagaan dan Sarana Prasarana

Terobosan lain yang dilakukan KH Ahmad Dahlan juga terlihat di bidang kelembagaan dan sarana prasarana. Ia juga mengangkat citra pendidikan Islam yang awalnya bersifat non formal menjadi sekolah formal.

Secara kelembagaan, sekolah ini setara dengan sekolah-sekolah Belanda. Lulusannya tak hanya diakui oleh masyarakat, tapi juga mendapat pengakuan secara hukum di hadapan pemerintah. Inilah yang kemudian melandasi lahirnya pendidikan modern.

KH Ahmad Dahlan juga mengadopsi model manajemen dan sarana prasarana sekolah-sekolah Belanda. Meskipun didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, status sekolah Muhammadiyah bukan miliknya melainkan milik umat dengan organisasi Muhammadiyah sebagai pemegang otoritasnya.

  1. Pendidikan Lintas Iman

Pemikiran KH Ahmad Dahlan yang tidak kalah penting adalah pendidikan lintas iman. Ia mengizinkan murid-murid OSVIA Magelang–sekolah yang didirikan Belanda untuk kalangan pribumi–yang beragama Kristen untuk mengikuti pendidikan agama Islam sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Hal ini dilakukan KH Ahmad Dahlan untuk memberikan kesempatan kepada siswa non muslim dalam mengenal Islam yang tidak sebatas pada interaksi, tetapi dari sisi ajarannya. KH Ahmad Dahlan sendiri dikenal sebagai sosok yang memiliki kepribadian terbuka, ia tidak hanya berkawan dengan kalangan muslim tetapi juga dengan para misionaris dan zending.

Pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 November 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Islam bernama Muhammadiyah. Pada tahun 1961, Pemerintah RI menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Ahmad Dahlan melalui SK Presiden No. 657 Tahun 1961 tertanggal 27 Desember.(d1)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini