Empat Perusahaan BUMN Bangkrut, Ini Strategi Pemerintah
Kementerian BUMN.
Bagikan Berita Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam waktu dekat akan segera melakukan restrukturisasi terhadap 4 perusahaan BUMN yang mengalami kebangkrutan.

Diantara perusahaan BUMN yang bakal direstrukturisasi itu adalah perusahaan penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines.

Berdasarkan data yang ada di Kementerian BUMN, setidaknya terdapat 11 perusahaan kategori plat merah yang mengalami kebangkrutan.

Namun untuk saat ini yang akan lebih diprioritaskan menurut Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kik Ro adalah PT Merpati Nusantara Airlines, PT Kertas Aceh Kraft, PT Industri Gelas dan PT Kertas Leces.

Terkait penanganan restrukturisasi empat perusahaan BUMN bangkrut tersebut akan diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) yang sudah ditunjuk pemerintah untuk melakukan pengelolaan, restrukturisasi hingga revitalisasi aset-aset BUMN.

“Empat ini technically bankrupt. Industri Gelas misalnya utang besar, lalu aset setengahnya juga telah diambil alih oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),” ungkap Aloy di Jakarta, Selasa, (17/07/2018).

Aloy menuturkan jika situasi bisnis yang tidak baik akhir-akhir ini membuat BUMN industri gelas dan kertas terpaksa gulung tikar. Kertas Aceh Kraft dan Kertas Leces disebut Aloy sebagai korban dari iklim bisnis yang memang sedang tidak baik.

“Semua perusahaan kertas sedang konsolidasi besar-besaran,” tuturnya.

Selain karena situasi bisnis yang memang sedang tidak bersahabat, Aloy pun menuturkan jika sejumlah BUMN pelat merah yang terpaksa gulung tikar tersebut juga memiliki beban utang kepada kreditur. Merpati Airlines misalnya tercatat memiliki utang hingga nominal Rp 10,72 Triliun.

“Kami juga harus selesaikan utang piutang dengan serikat pekerja karyawan,” terang Aloy.

Soal Merpati Airlines, Aloy mengatakan kalau total aset sisa perusahaan penerbangan tersebut hingga akhir tahun 2017 tercatat hanya menyisakan sebesar Rp 1,21 Triliun.

Hal itu tentu tidak sebanding dengan jumlah utang yang harus mereka bayar. Apalagi menurut Aloy, perusahaan penerbangan tersebut sudah tak beroperasi lagi sehingga tak ada pendapatan yang bisa dibukukan.

Sedangkan untuk kasus Kertas Kraft Aceh menurut Aloy pada akhir 2017 perusahaan tersebut menyisakan aset sejumlah Rp 781 Miliar. Sementara kewajiban yang harus dibayar jumlahnya mencapai Rp 1,7 Triliun.

Namun perusahaan tercatat masih membukukan pendapatan sejumlah Rp 146 Miliar meski perusahaan tetap merugi dengan nilai mencapai Rp 66 Miliar.

Selanjutnya, industri gelas juga turut mencatatkan utang dengan jumlah yang tak sedikit. Perusahaan tersebut tercatat membukukan utang sebesar Rp 1,09 Triliun dengan jumlah pendapatan per tahun 2017 hanya Rp 824 Juta. Dengan sejumlah perhitungan, PT Industri Gelas diketahui merugi dengan nilai kerugian mencapai Rp 55,45 Miliar.

Kertas Leces juga tak lebih baik dari 3 kawannya. Perusahaan yang bergerak di industri kertas ini tercatat mempunyai utang sebesar Rp 1,34 Triliun per tahun 2017. Sedangkan perusahaan hanya memiliki sisa aset sebesar Rp 720 Miliar.

Terkait persoalan 4 BUMN tersebut Aloy menuturkan jika pihaknya saat ini tengah mencari investor atau pihak-pihak yang bersedia membangkitkan beberapa perusahaan pelat merah tersebut.(Egk)


Bagikan Berita Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here