Lipi Sebut 41% Pengusaha Hanya Sanggup Bertahan Hingga Agustus

1822
1776
Lipi Sebut 41% Pengusaha Hanya Sanggup Bertahan Hingga Agustus
Ilustrasi mall yang sepi (Sumber foto : Ist)
Bagikan Berita Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Tidak bisa dipungkiri, pandemi Corona memukul ekonomi. Saat ini pengusaha sedang berhitung sampai kapan bisa bertahan? Sebuah survei oleh LIPI menyebutkan sebanyak 15,6% pekerja mengalami PHK dan 40% pekerja mengalami penurunan pendapatan, di antaranya 7% pendapatan buruh turun hingga 50%.

“Kondisi ini berpengaruh pada kelangsungan hidup pekerja serta keluarganya,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti, Rabu (20/5).

BACA JUGA: Nunggak Didenda Rp 30 Juta, Said Didu Sebut BPJS Bukan Untuk Memeras Rakyat

Dari sisi pengusaha, pandemi Covid-19 menyebabkan kegiatan usaha terhenti dan kemampuan bertahan pengusaha semakin rendah. Hasil survei mencatat 39,4% usaha terhenti, dan 57,1% usaha mengalami penurunan produksi. Hanya 3,5% yang tidak terdampak.

Kemampuan bertahan kalangan dunia usaha juga mengalami keterbatasan. Sebanyak 41% pengusaha hanya dapat bertahan kurang dari tiga bulan. Artinya, pada bulan Agustus usaha mereka akan terhenti.

Sebanyak 24% pengusaha mampu bertahan selama 3-6 bulan, 11% mampu bertahan selama 6-12 bulan ke depan, serta 24% mampu bertahan lebih dari 12 bulan.

Sementara dampak Covid-19 pada usaha mandiri menyebabkan bisnis terhenti dan sebagian mengalami penurunan produksi. Sebanyak 40% usaha mandiri terhenti kegiatan usahanya, dan 52% mengalami penurunan kegiatan produksi.

BACA JUGA: PKS Tegaskan Sebagai Oposisi Dalam Rapat Panja RUU Omnibus Law

Hal ini berdampak 35% usaha mandiri tanpa pendapatan dan 28% pendapatan menurun hingga 50%.

Survei online ini adalah hasil kerjasama LIPI bersama Badan Litbang Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Survei dilakukan selama periode 24 April sampai 2 Mei 2020 terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas, dengan jumlah responden yang terjaring sebanyak 2.160 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

“Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi riset yang dipresentasikan secara terbuka sebagai pertanggungjawaban terhadap publik, karena publik yang menjadi bagian penting dalam mengisi kuesioner ini,” kata Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara.

Skenario Pertumbuhan Ekonomi

Kelesuan ekonomi memang menjadi ancaman serius. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,3 persen hingga akhir tahun, menjadi skenario optimistis.

BACA JUGA: RSUD Ogan Ilir Pecat 109 Nakes Karena Menolak Menangani Pasien Covid-19

Untuk skenario berat, peningkatan jumlah penduduk miskin sebanyak 1,89 juta jiwa dan angka pengangguran baru bertambah 2,92 juta. “Kalau skenario lebih berat atau sangat berat, kemiskinan bisa meningkat 4,86 juta dan pengangguran 5,23 juta,” jelas Sri Mulyani dalam video conference, Senin (18/5/2020).

Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 lebih rendah dari 2,3 persen.

Hal tersebut disebabkan karena realisasi pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I 2020 jauh lebih rendah dari perkiraan, yakni di kisaran 2,97 persen. Sementara di tahun sebelumnya di level 4,97 persen (yoy).

“Waktu itu puncaknya PSBB terjadi pada April sampai pertengahan Juni. Wilayah PSBB kurang lebih 70 persen dari wilayah ekonomi Indonesia. Kalau kuartal I (pertumbuhan) 2,97 persen bagaimana tahun 2020? Mungkin lebih rendah dari 2,3 persen,” kata Perry beberapa waktu lalu.

BACA JUGA: 81 Persen Warga Ingin Akhiri PSBB, Tapi Penyebaran COVID 19 Masih Tinggi

Namun, pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah pada 2020 akan menambah base effect pertumbuhan ekonomi pada 2021. Pihaknya memprediksi, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi 6,6 persen hingga 7,1 persen jika defisit fiskal di level 3-4 persen. Kemudian, pertumbuhan ekonomi pada 2022 akan kembali pada tren jangka panjang karena faktor base effect akibat Covid-19 sudah hilang.(up)


Bagikan Berita Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Comments are closed.