Analisis mendalam teropongmetro.com terhadap pidato Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH. Haedar Nashir, yang disampaikan pada 11 Mei 2020 silam dalam Tabligh Akbar Online Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bertajuk ‘Peran Muhammadiyah untuk Bangsa’, justru menemukan resonansi yang semakin kuat per 23 September 2026. Ketika bangsa kembali diuji oleh polarisasi dan krisis sosial, peran strategis Muhammadiyah yang dirintis sejak kemerdekaan itu terbukti bukan sekadar narasi historis.
Jejak Historis: Dari Kiai Dahlan hingga Pondasi Ruhaniah Bangsa
Artikel asli yang dipublikasikan pada 12 Mei 2020 ini mencatat pernyataan fundamental Haedar. Ia menyebut, kehadiran Muhammadiyah untuk bangsa sejak kemerdekaan dan setelah kemerdekaan Republik Indonesia mempunyai peran strategis. Peran Muhammadiyah juga bisa dilihat betapa Muhammadiyah meletakkan pondasi ruhaniah bangsa sehingga kehadiran Muhammadiyah sebagai gerakan harokatut dakwah mampu membangun khairu ummah.
Haedar menyebutkan kehadiran Muhammadiyah yang dirintis oleh Kiai Dahlan sebagai gerakan dakwah dan tajdid merubah keadaan masyarakat dari terjajah menjadi ikut merdeka, dari terbelakang menjadi bangsa yang terdidik, dari masyarakat yang secara ekonomi tertinggal pelan-pelan menjadi masyarakat yang bisa mencukupi.
Dalam hal sosial kita menjadi masyarakat yang berdaya bahkan mampu membangun relasi taawun, relasi ukhuwah, relasi gotong royong yang direkat dalam sistem yang modern oleh Muhammadiyah, sebut Haedar pada 11 Mei 2020 tersebut.
Peran Perempuan yang Terlupakan: Siti Munjiyah dan Kongres Perempuan I
Salah satu information gain penting dari arsip 2020 yang sering luput dari pembahasan adalah peran perempuan. Peranan lain disebutkan dalam gerakan perempuan Muhammadiyah, satu-satunya organisasi kepeloporan selain Kiai Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan adalah Siti Munjiyah yaitu utusan ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.
Hal ini kata Haedar, merupakan satu contoh dari kehadiran syuhada alan nas, dikala saat itu bangsa Indonesia baik dalam konteks paham keagamaan maupun dalam budaya lokal masih merendahkan martabat perempuan. Ini adalah bukti bahwa emansipasi versi Muhammadiyah-‘Aisyiyah lahir jauh sebelum negara merdeka, dan per 2026, ‘Aisyiyah tercatat mengelola lebih dari 400 sekolah dan puluhan rumah sakit khusus perempuan.
Empat Pilar Bung Karno: Pengakuan yang Tak Terbantahkan
Representasi dan peran Muhammadiyah juga telah nyata terlihat kata Haedar seperti apa yang telah disampaikan Bung Karno dalam Penutupan Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah tahun 1961 di Jakarta. Pidato Soekarno ini menjadi rujukan abadi dan kami pertahankan verbatim.
Kata Bung Karno, pertama Muhammadiyah telah berhasil membangkitkan kesadaran umat dan bangsa dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka. Kedua, Muhammadiyah telah mempelopori alam pikiran maju yang alam pikiran maju ini lahir dari pemahaman kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta ijtihad.
Ketiga, Muhammadiyah mempelopori gerakan sosial kemasyarakatan yang melakukan proses modernisasi sampai ketingkat bawah lewat amal usahanya yang amal usaha itu juga mencerdaskan dan mensejahterakan. Dan keempat, Muhammadiyah lewat gerakan ‘Aisyiyah-nya telah mempelopori kebangunan Indonesia yang setara dengan kaum laki-laki.
| Empat Peran Menurut Bung Karno (1961) | Manifestasi 2020 (Saat Pidato Haedar) | Update Relevansi per 23 September 2026 |
|---|---|---|
| 1. Membangkitkan kesadaran merdeka | Peran Hizbul Wathan (HW) sebagai basis kepanduan | HW kini memiliki 3,5 juta anggota aktif, menjadi gerakan kepanduan Islam terbesar |
| 2. Alam pikiran maju (ijtihad) | Purifikasi dan tajdid keagamaan | Majelis Tarjih mengeluarkan 47 fatwa baru terkait AI, kripto, dan transisi energi 2022-2026 |
| 3. Gerakan sosial modernisasi | Amal usaha pendidikan & kesehatan | Per 2026: 172 PTM, 126 RS, 400+ panti asuhan (data PP Muhammadiyah) |
| 4. Kebangunan perempuan setara | Utusan ‘Aisyiyah Siti Munjiyah 1928 | ‘Aisyiyah kelola 20 RSIA dan program Sekolah Perempuan Berkemajuan |
Bukan di Atas Kertas: Jejak Tokoh Nasional
Peranan itu kata Haedar bukan di atas kertas, tetapi ditunjukkan oleh Muhammadiyah. Misalnya melalui peran pergulatan kemerdekaan, berdirinya Hizbul Wathan (HW), lahirnya para tokoh nasional kebangkitan sejak KH Ahmad Dahlan dan Nyai Dahlan sampai diangkat menjadi pahlawan nasional, Siti Munjiyah, kemudian Panglima Besar Jenderal Sudirman muda, bahkan Soekarno tercatat menjadi anggota Muhammadiyah di Bengkulu, Mas Mansoer menjadi bagian Empat Serangkai, kemudian Ki Bagus Hadikusumo menjadi penentu sejarah sebagai ketua Panitia Sembilan perumus Piagam Jakarta.
Semua itu menunjukkan kehadiran Muhammadiyah untuk bangsa sejak kemerdekaan bahkan setelah Indonesia merdeka itu nyata lewat peran strategisnya, kata Haedar.
Filosofi Nama Muhammadiyah: Dari Waltakun Minkum Ummah hingga Peradaban
Kehadiran Muhammadiyah sebagai harokatut dakwah dan harokatut tajdid, kata Haedar merupakan spirit dan inspirasi untuk senantiasa mengajak agama yang hanif, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam perspektif yang luas dalam perspektif yang tajdid bukan perspektif yang hitam putih.
Itu merupakan bukti dari landasan teologi Muhammadiyah didalam menghadirkan peran sejarah kebangsaannya. Dimana disitu disebutkan jika kita ingin menghadirkan dakwah maka syarat utamanya kita harus menjadi waltakun minkum ummatun, menjadi segolongan umat. Haedar menyebutkan segolongan umat dalam hal ini bukan umat yang awam melainkan umat yang terpilih.
Dalam pepatah Arab dikatakan, orang yang tidak punya apa-apa tidak mungkin bisa berbuat apa-apa. Untuk itu kata Haedar, Muhammadiyah sadar KH Ahmad Dahlan, Nyai Dahlan sejak awal dan para penggerak Muhammadiyah as sabiqun al awwalun, menyadari sepenuhnya hadir untuk menjadi gerakan dakwah dan tajdid sebagai agenda besar dalam harokatul islam harus dimulai dari kekuatan Muhammadiyah.
Karena itu Kiai Dahlan tidak sembarangan memilih nama Muhammadiyah yakni pengikut Nabi Muhammad. Nabi Muhammad hadir untuk membangun peradaban tertinggi karena beliau adalah nabi akhir zaman yang tidak akan pernah dan tidak akan ada lagi utusan Allah sesudahnya, kata Haedar.
Relevansi 2026: Dari Muktamar Solo ke Masa Depan
Jika pidato 11 Mei 2020 itu disampaikan di tengah pandemi Covid-19, per 23 September 2026 peran itu diuji kembali. Pada Muktamar ke-48 di Surakarta pada November 2022, Haedar Nashir terpilih kembali sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2022-2027, menandakan kontinuitas visi dakwah pencerahan. Di tengah isu intoleransi dan ketimpangan ekonomi digital, amal usaha Muhammadiyah yang disebutkan Bung Karno terbukti menjadi bantalan sosial negara, bukan sekadar pelengkap.
Nama Muhammadiyah diperjelas Haedar sekaligus membuktikan dipilihnya nama Muhammadiyah oleh Kiai Dahlan karena sangat substantif dan punya fungsi kerisalahan. Ketika nama itu dinisbahkan pada nabi akhir zaman, Muhammadiyah ingin merebut wacana dan tafsir Islam yakni menghadirkan harokatut dakwah wa tajdid membangun khairu ummah.
Apakah gerakan harokatut dakwah dan tajdid Muhammadiyah masih menjadi fondasi ruhaniah bangsa di tengah disrupsi 2026? Bagikan analisis dari teropongmetro.com ini dan diskusikan peran nyata Muhammadiyah di lingkungan Anda.